Najwa Shihab (Foto : Instagram/@najwashihab)

Petapolitik – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menuliskan tentang “Sampah-sampah Demokrasi” dengan menambahkan potongan video yang menampilkan wawancara antara Najwa Shihab dengan Luhut Binsar Pandjaitan.

Najwa Shihab pun angkat bicara soal postingan tersebut. Menurutnya, yang posting Ngabalin adalah versi hoak berupa potongan-potongan video yang diedit sedemikian rupa sehingga hilang makna wawancara sesungguhnya.

Ia menyesalkan masih banyak pihak yang memanipulasi informasi, bahkan sampai diamplifikasi dan dikomentari pejabat negara.

Sebagai informasi, Ngabalin lewat akun Twitter-nya, @AliNgabalinNew pada 9 Juli 2021 pukul 9.19 mencuitkan responsnya terhadap desakan agar Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mundur. Bukan hanya rangkaian kalimat yang diawali ‘Sampah Demokrasi’, Ngabalin pun menyertakan sebuah potongan video berdurasi 45 detik.

Najwa Shihab mengatakan wawancara tersbut diambil dari episode Mata Najwa berjudul ‘Gerabak-Gerubuk Urus Pagebluk’ yang tayang pada 22 September 2020.

“Versi hoaks itu, menggabungkan konten yang sebenarnya berasal dari dua segmen Mata Najwa yang berbeda (segmen 2 dan segmen 3), juga gabungan jawaban Pak Luhut atas pertanyaan-pertanyaan saya yang juga berbeda-beda,” kata Najwa dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (9/7/2021).

Dalam video itu, terlihat Najwa tengah berdebat dengan Luhut Binsar Pandjaitan. Diketahui, Luhut tengah ditugaskan sebagai komando pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa Bali 3-20 Juli 2021.

Video itu, kata Najwa, memotong percakapan utuh antara dia dan Luhut dengan seenaknya. Video itu, juga dengan sengaja memutilasi konteks.

Pertama, pernyataan Luhut yang menyinggung, ‘banyak pemimpin-pemimpin kita ini, intelektual-intelektual kita ini, yang asal mudah saja bicara…’ “Itu konteksnya untuk menjawab pertanyaan saya yang merujuk peringatan WHO [Badan Kesehatan Dunia di bawah PBB] dan sejumlah pakar yang mewanti-wanti agar vaksin jangan dianggap sebagai solusi ajaib,” kata Najwa.

Kedua, pernyataan Luhut yang dimulai dengan kalimat, ‘kau sebagai warga negara renungkan tindakanmu dalam situasi krisis’, Najwa menjelaskan itu konteksnya adalah ketika mereka membahas kegiatan-kegiatan politik yang mengumpulkan banyak orang.

“Pernyataan Luhut itu menjawab pernyataan spesifik saya tentang Deklarasi KAMI di Magelang yang dilakukan sepekan sebelum Mata Najwa episode Gerabak-Gerubuk Urus Pagebluk,” tuturnya.

Dia mengatakan, ini bukan kali pertama ia mendapat serangan hoaks dengan memakai konten Mata Najwa. Menurut dia, metode dan cara kerjanya selalu sama. Pihak-pihak tersebut mengedit atau memotong gabung video utuh tayangan Mata Najwa. Selanjutnya mereka memutilasi konteks, hingga merekayasa suasana dan situasi dialog dalam tayangan tersebut.

“Lalu dibumbui caption-caption lebay dan menghasut. Dan, lantas didistribusikan selalu dan mula-mula oleh akun-akun pendengung,” ujar Najwa.

Menurut Najwa, video yang diunggah akun media sosial Ngabalin tersebut menjadi salah satu contoh memanipulasi informasi dilakukan secara sadar untuk memperkeruh percakapan publik tentang situasi dan kondisi nusantara.

“Saya sangat menyesalkan manipulasi informasi ini juga diamplifikasi dan dikomentari oleh pejabat publik. Berat sekali usaha kita untuk menjernihkan ruang publik dari distorsi dan manipulasi jika banyak pejabat gampang termakan informasi-informasi palsu seperti ini,” ujar Najwa gusar.

Dihubungi terpisah, Ngabalin mengaku mengunggah konten tersebut di akun Twitter-nya. Ngabalin menyatakan tayangan Mata Najwa itu tidak sesuai fakta, makanya langsung direspons dengan tegas oleh Luhut.

“Kalau Mata Najwa juga sama, kenapa harus buat potongan-potongan siaran yang sebetulnya faktanya tidak terbukti, makanya di-cut habis oleh Pak Luhut,” kata Ngabalin.

Menurut dia, sebagai salah satu wartawan yang sudah lama bergelut di bidang jurnalistik, Najwa seharusnya dapat mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik yang ada. Ia juga meminta agar program Mata Najwa tidak sekadar mencari popularitas.

“Secara intelektual itu ya sebagai tokoh media kan musti ada. Ruang publik itu harus diberikan pencerahan, rakyat mendapat manfaat dari kebenaran dari apa yang bisa kita persembahkan di ruang publik,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here