Kekuatan Media Sosial dalam Pembentukan Opini Politik

0
101

Dalam arena politik Indonesia, kondisi pasca Soeharto telah membuka ruang di mana ekspresi politik rakyat dan wacana yang dibawakannya dapat mewarnai sebuah proses politik.  Kita telah menyaksikan sekali lagi bagaimana appeal media sosial dalam menggencarkan opini rakyat terhadap suatu proses politik atau kasus dengan muatan politik yang tinggi. Di Indonesia, sejak proses reformasi dimulai pada  tahun 1998, kalangan kelas menengah perkotaan adalah tulang punggung dari mobilisasi media sosial ini. Berbekal kedekatan personal di dunia nyata, mereka pun terbagi ke dalam cluster-cluster yang membentuk opini mengenai isu-isu kemanusiaan di dunia maya.

Salah satu yang paling menonjol adalah isu antikorupsi.. Hal inilah yang tampak manakala kita mengamati pro dan kotra dalam isu KPK versus Polisi. Apa yang terlihat sebagai “perseteruan” antar institusi itu, berdasarkan liputan media massa, bermula dari upaya KPK dengan bantuan para penyidik dari kepolisian membongkar kasus simulator. Kepolisian di saat yang sama tidak memberikan dukungan yang jelas meskipun secara kelembagan mempunyai kewajiban untuk mendukung investigasi yang dilakukan KPK. Keduanya merupakan lembaga penegak hukum, yang memperoleh mandat dari konstitusi RI.  Namun, yang berkembang kemudian, dalam hitungan hari Kepolisian menarik hampir seluruh penyidik dari kepolisian yang berada di KPK termasuk hendak menarik salah satu anggotanya yaitu Komisaris Polisi Novel Baswedan, yang tengah menyelesaikan kasus dugaan korupsi simulator SIM.

Hal ini menyebabkan publik, yang mengikuti dari dekat kinerja bebrapa pemberantasan korupsi, menjadi bertanya-tanya. Puncaknya adalah kedatangan aparat kepolisian berpakaian preman pada 6 Oktober 2012 malam ke kantor KPK untuk “menjemput” Kompol Novel Baswedan dengan alasan harus ditahan setelah melakukan tindak pidana di Bengkulu tahun 2004 (!) Keprihatinan publik terhadap gencarnya tekanan pada upaya pemberantasan korupsi oleh KPK kemudian diwujudkan dengan mengalirnya gerakan solidaritas menduduki kantor KPK di saat yang sama ketika investigasi terhadap Djoko Susilo berlangsung. Semua media nasional, media sosial terutama Twitter menyiarkan apa yang tengah berlangsung di gedung KPK, kini dimaknai sebagai simbol perlawanan “cicak versus buaya” jilid kedua.  Di dalam gedung, konferensi pers berlangsung dipimpin oleh Bambang Widjojanto, yang mengatakan dengan tegas bahwa “tengah berlangsung upaya kriminalisasi KPK” dengan penarikan atau penangkapan para penyidik dari kepolisian.  Di tempat lain, POLRI tak bergeming menyelenggarakan konferensi pers dengan menghadirkan Diskrenum dari Bengkulu.

Setiap detik dari peristiwa selanjutnya, di dunia maya, selalu muncul dalam TL (timeline atau linimassa) yang di re-tweet oleh para followers yang membaca dan mengikuti proses ini. Simpati masyarakat Jakarta terhadap “permusuhan” KPK  dan Polri mengerucut melalui arena media sosial seperti Twitter dan facebook.

Pada tanggal 6  Oktober menjelang tengah malam, seiring dengan memuncaknya ketidakpastian mengenai penarikan penyidik Novel Baswedan, kalangan pengguna media sosial di Twitter menggulirkan dan merespons kicauan –kicauan untuk bertemu di Bundaran HI 7 Oktober 2012 pukul 0700 pagi. Sejak detik itu, berbagai usulan rencana aksi dikemukakan oleh para tweets. Kelompok band popular menymbangkan vocal dan perangkat musiknya. Seseorang mentweet mengenai logistic untuk berdemo. Bahkan ada relawan tweet bahwa dia akan stand by pukul 0300 pagi di Bundaran HI.

Isu-isu sosial dan politik lain di Indonesia yang mendapat  banyak respons melalui media sosial twitter adalah mengenai peringatan pembunuhan aktivis HAM, Munir, dan kontroversi mengenai perjalanan anggota dewan ke luar negeri. Beberapa waktu yang lalu, juga muncu pro dan kontra di dunia maya berkaitan dengan respons pada ucapan Mendiknas M. Nuh yang, oleh sebagian besar aktivis perempuan, di anggap tidak berempati terhadap siswi SMP korban penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh orang yang dikenalnya melalui jejaring Facebook.

Dari dunia politik luar negeri, kira saksikan semakin banyak pihak yang benar-benar memanfaatkan  media sosial untuk berbagi pesan ke seluruh dunia yang, berimplikasi membangun opini untuk mendukung tujuan politik tertentu. Ketika persoalan Palestina versus Israel baru-baru ini memanas, demikian pula situs-situs microblogging dipenuhi oleh pro dan kontra mengenai pemboman beruntun ke Jalur Gaza. Tim juru bicara Israel Defense Forces mengeluarkan strategi jurnalisme “baru” di mana akun @idfspokeperson men-tweet peristiwa-peristiwa dari arena pertempuran secara langsung.

Sekilas Tentang Media Sosial

Bagaimana kita sampai pada titik di mana kita tidak lagi bisa berjalan mundur dari dunia media sosial? Keikutsertaan pengguna di seluruh dunia ke dalam komunitas media sosial ini dimulai pada tahun 2004, ketika mahasiswa Harvard, Mark Zuckerberg menciptakan Facebook sebagai cara untuk terhubung dengan sesama siswa. Awalnya teknologi ini diadopsi oleh siswa sekolah dan perguruan tinggi, jaringan sosial, sampai 2012 ketika pengajuan penawaran awal publik, telah berkembang menjadi 845 juta pengguna aktif di seluruh dunia, dan sekitar 161 juta pengguna aktif bulanan di AS, sehingga media sosial premier layanan di dunia. Jika Facebook adalah sebuah Negara, bisa jadi akan menjadi Negara yang terbesar itu akan menjadi yang terbesar ketiga setelah China dan India. Sementara itu, diluncurkan pada bulan Juli 2006, Twitter adalah jaringan sosial online dan layanan microblogging yang telah berkembang menjadi lebih dari 300 juta pengguna pada 2011, menurut Twopcharts akun tracker. Hal ini memungkinkan pengguna untuk bertukar foto, video, dan pesan dari 140 karakter atau kurang.

Apa yang menjadi daya tarik utama sehingga orang beramai-ramai memposting karya mereka, di tempat “publik” itu? Media massa konvensional seperti koran atau majalah tidak mempunyai “kesuksesan” sebesar ini. Daya tarik dari “tiga besar” media sosial di atas adalah, selain pelayanan-pelayanan (aplikasi) dan blogging independen adalah bahwa rata-rata orang, dengan sedikit atau tidak ada keterampilan komputer mutakhir, bisa sukses baik menggunakan mereka, konten dapat dibuat dan diakses dengan sesedikit smartphone, dan dapat dengan mudah intertwinedLink ke video yang diposting di YouTube dapat menanamkan link di blog, Facebook, dan Twitter. Sebuah posting Twitter dapat muncul pada halaman Facebook. Dengan kata lain, sejumlah besar orang dapat dengan mudah dan murah dihubungi melalui berbagai layanan.

Media Sosial juga mengurangi hambatan tradisional sosio-ekonomi untuk menjadi sosok yang terkenal. Barangkali disinilah letak nilai tambah utama dari media sosial, di mana anda tidak harus “menjadi orang” untuk “menjadi seseorang” di media sosial. Ibu rumahtangga, politisi, wartawan, jurubicara pemerintah, ulama, birokrat, anak sekolah artis, dan aktivis melihat dan dengan sengaja memanfaatkan potensi media sosial. “Internet, YouTube, Twitter, dan Facebook memiliki keleluasaan untuk dibentuk secara mandiri oleh kalangan kaum muda. Dari aspek jangkauan pesan yang tersampaikan pun, media sosial memperlancar apapun format hubungan yang dibangun, selain tentunya, bagaimana komunikasi diproduksi, direproduksi, dimediasi, dan diterima. Mereka juga diantar untuk memasuki dan terlibat dalam rezim baru citra visual di mana budaya layar menciptakan peristiwa spektakuler, seperti halnya ketika mereka merekam diri sendiri dan menyebarluaskannya (postings) ke Blackerry, Twitter dan facebook sekaligus, untik dibaca oleh ratusan, ribuan bahkan jutaan orang.

 Dalam keadaan seperti itu, kekuasaan negara menjadi lebih menyusut, dan ada kesan, berkurang  daya kontrolnya. Pesan teks di Facebook, Twitter, YouTube dan Internet telah memunculkan reservoir energi politik yang mengemukakan relasi baru antara teknologi media baru, politik, dan kehidupan publik. Teknologi digital ini ternyata cukup “powerful” untuk dimanfaatkan dalam proses pembentukan opini dan berlangsungnya kegiatan di tengah kelompok-kelompok masyarakat. (Irine H Gayatri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here