Fri, 12 November 2010

PetaPolitik.Com – Betapa pun terlambat ikut memopulerkan figur DR. Sjahrir, tokoh Peristiwa Malari 1974 bersama Hariman Siregar, dan kawan-kawan, dengan senang hati saya tetap tidak menutup kekaguman dan solidaritas perjuangan idealisme kepada figur almarhum DR. Sjahrir, yang akrab disapa Ciil.

Nama akrabnya, Ciil inilah yang menjadi judul buku kenangan, dari semua orang yang mengenalnya dengan sangat dekat, personalistis dan humanis. Pelbagai kalangan yang menuangkan kesan kepada perjuangan Sjahrir, patutlah disambut masyarakat pembaca dan peminat sosial politik hingga pendidik.

Ignas Kleden, orang yang juga dikagumi Sjahrir, turut menuangkan salah-satu judul tulisan dalam buku Ciil, menulis “DR. Sjahrir dan Pendidikan Alternatif.  Sebagai seorang ahli ekonomi, keahliannya jauh melampaui bidangnya,” demikian komentar Kleden.

Tidak berlebihan komentar Kleden itu, apabila Anda dapat dan pernah dekat dalam kehidupan Sjahrir. Sekian puluh orang yang menulis kesan dalam buku ini, umumnya orang
yang pernah, masih dan terus begitu akrab secara personal dengan almarhum Sjahrir.

Mungkin satu dua orang diantaranya tidak bersama-sama dalam satu organisasi perjuangan. Tetapi tetap mengakui, jika pribadi DR. Sjahrir adalah sebagai inspirator, motivator dan menjadi motor penggerak yang merupakan suatu cita-citanya sekaligus.

Sebelum Obama menjadi Presiden, kami mendengar informasi “The Rising Star” Obama dari mulut Ciil.

Sutan Sjahrirlah Beri Nama Belakang untuk Ciil

Anda dapat bertemu dengan banyak nama yang populer di kalangan masyarakat pendidik, politisi, praktisi ekonomi, hingga isterinya, DR. Kartini, puteranya Pandu atau puterinya Gita turut memberi kesan tentang seorang Ciil.

DR. Sjahrir memang bukan Sutan Sjahrir, salah seorang founding-father Republik Indonesia. Sutan Sjahrir sepupunya, adalah orang yang memberi nama kepada Sjahrir, dari nama belakangnya.

Teringat suatu saat, saya meminta Ciil untuk memberi kata pengantar untuk buku pengajar Filsafat DR. Yong Ohoitimur. Tanpa pikir panjang dan amat peduli karena perhatian pada pendidikan humaniora. Dia benar-benar menyiapkan diri untuk politik akal sehat, politik nurani dan politik keadilan untuk semua. Etika politik yang oleh Komisi III DPR RI, dicari ke Yunani, padahal di Indonesia sudah ada tokoh ahlinya.

Betapa pun ia tampak gagal menjadi pemimpin bangsa karena ia direkomendasikan Partai PIB unuk menjadi Calon Presiden, tahun 2004. Betapa pun ia tidak mencapai cita-cita itu, ia akhirnya meninggal dalam keadaan sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Ekonomi Pesiden SBY jilid I. Sjahrir memang pribadi yang luar biasa, dalam kata dan kepribadian.

Untuk mengenal lebih jauh orang penting yang pernah dipenjarakan pada masa Soeharto, bergelar doktoral dari Universitas Havard, AS (tempat kuliah Obama juga), putera Bukit Tinggi, kelahiran Kudus, Jawa Tengah ini adalah sungguh pribadi unik dan dahsyat. [KabarIndo]

Berthy B Rahawarin

Berita Terkait :

  1. Bencana Lebih Dahsyat, Siapkah Kita?
  2. Gerakan Mahasiswa, Unjuk Rasa, dan Media Massa Nasional
  3. Ini Dia Sikap PDIP Terkait Reshuffle

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment