Wed, 11 April 2012

PetaPolitik.com – Tidak semua orang pantas menjadi Presiden atau pemimpin. Tidak juga para ketua umum partai politik. Ironis memang, karena idealnya sebuah partai politik adalah miniatur organisasi negara yang pucuk pimpinannnya tidak boleh tidak harus menunjukkan diri minimal mempunyai kapasitas ke arah sana (presiden).

Apakah seorang Ketua Umum Partai Golkar yang juga pengusaha kelas raksasa pada saat ini terlihat pantas menjadi kandidat Presiden? Aburizal Bakrie memang cerdas dan pandai, jelas kaya, pintar berorganisasi, tetapi apakah dia mampu menunjukkan kebijaksanaan atau tauladan kepemimpinan. Baru pada kapasitas ini walaupun Aburizal Bakrie sangat senior umurnya tetapi dalam soal kebijaksanaan dan tauladan kepemimpinan ternyata beliau masih minim catatan sejarahnya. Jangan tanya soal wawasan keadilan, jangan tanya soal keberpihakan terhadap masyarakat yang lemah.

Jika kriteria seperti apa yang harap disematkan kepada Ketua Umum Partai Golkar coba dibandingkan kepada Ketua-ketua Umum Partai di Indonesia yang lain niscaya juga sangat langka sekali yang memenuhi syarat-syarat menjadi pimpinan yang pantas, mampu dan bisa dipercaya (decent, capable, accountable). Apakah Ketua Umum PDIP yang mengaku partai wong cilik punya jejak ketauladan kepemimpinan? Sepertinya juga tidak punya. Jangan tanyakan pada Ketua Umum PPP yang kata perkata yang keluar dari tuturnya tidak menunjukkan tanda-tanda kebijaksanaan. Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera mungkin bisa menunjukkan kemampuan korps organisasi partainya yang terlihat kokoh, tetapi dihadapkan pada persoalan kenegaraan yang mengharuskan wawasan negarawan yang bisa lepas dari warna paham sendiri, mereka benar-benar sektarian. Jangan sekali-kali berharap pada Ketua Umum Partai Demokrat yang masih sangat kencur dan hanya pandai berkilah dan ingkar kata.

Di balik semua kenyataan yang memprihatinkan, negeri ini tak lama lagi harus punya calon-calon Presidennya, tidak bisa tidak. Barangkali pilkada Jakarta, ibukota negara ini bisa menjadi contoh adanya pertarungan para kandidat pemimpin yang minimal mempunyai rekam jejak saat menjadi pemimpin di daerahnya.

Jokowi, masih muda, punya kapasitas, punya kebijaksanaan, pintar, punya visi dan sering membuat gebrakan adalah kandidat yang mempunyai modal sangat menjanjikan. Tetapi semua itu belum cukup untuk menghadapi tantangan ibu kota. Jakarta mempunyai persoalan yang skalanya berlipat-lipat dari daerah Solo yang dulu dipimpin oleh Jokowi. Jakarta juga mempunyai kejelimetan persoalan yang berlipat ruwetnya mulai dari macet kronis hingga tata kota yang acakadul. Apakah hal itu bisa ditanyakan pada calon wakilnya ?

Basuki Ahok, mungkin bersih tetapi itu jelas tidak cukup. Gebrakan harus ada, kepintaran, dan kemampuan mendengar yang baik harus dimiliki oleh orang muda ini. Berorganisasi, Ahok adalah contoh yang buruk karena rekam jejaknya berisi kegemarannya berpindah-pindah kapal yang hanya dipilih jika cocok bagi kepentingannya.

Tetapi dua orang muda ini harus diakui paling menjanjikan dalam kontes pemilukada Jakarta. Soal popularitas mungkin mereka berada paling atas, tetapi Jakarta siapa punya? Saat pragmatisme masih menjadi budaya, calon yang bisa membeli suara biasanya juga masih cukup mudah untuk mendapati warga jakarta yang menjual suaranya dengan uang. (djio)

Berita Terkait :

  1. Memunculkan Pemimpin Idealis
  2. PDI-P, Ironi Partai Besar Yang Tidak Siap Menang
  3. Buruknya Citra Politisi Muda Adalah Kenyataan Yang Harus Ditelan
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment