Fri, 7 January 2011

PetaPolitik.Com – Walaupun berlambang banteng tambun berwajah garang, ternyata sikap politik PDI Perjuangan malah malu-malu kucing. Adalah Taufik Kiemas (TK) yang melarang putrinya Puan Maharani maupun para pengurus partai untuk duduk dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tapi ketua dewan pembina PDI Perjuangan sekaligus juga Ketua MPR tidak melarang simpatisannya untuk menjabat sebagai menteri.

Alasan TK adalah agar tidak terjadi politik transaksional antara PDI Perjuangan dengan Partai Demokrat. Namun alasan tersebut sangat tidak masuk akal mengingat TK selama ini sangat intens melakukan pendekatan dengan SBY. Bila TK melarang putrinya maupun pengurus partai masuk dalam jajaran kabinet tentu juga bukan karena tidak ingin menyalahi amanat kongres partai di Bali yaitu sebagai partai oposisi, namun lebih karena TK menginginkan Puan Maharani masuk bursa cawapres bersama capres yang akan diusung oleh Partai Demokrat.

TK terkenal licin dan terampil dalam melakukan bargaining politik dengan pihak manapun. Menyadari kondisi PDI Perjuangan yang tidak punya uang dan kehilangan kontrol kekuasaan dalam partai, TK harus mencari dukungan politik dari luar yang cukuo kuat agar bisa tetap mengusung putrinya Puan Maharani masuk dalam lingkaran kekuasaan. Di internal partai, dukungan kepada Puan tidak terlalu bulat. Bahkan kelompok Soekarnois lebih memilih Puti Guntursoekarnoputri untuk mengambil alih tampuk pimpinan guna menggantikan Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, sebagai partai oposisi, banyak kader partai terutama yang di parlemen tidak bisa terlalu mendapatkan porsi anggaran dan proyek lebih besar dibandingkan partai-partai politik pendukung pemerintah. Akibatnya setoran dari kader di parlemen tidak mampu menggerakkan roda partai secara optimal. Bahkan banyak anggota parlemen dari PDI Perjuangan yang mengharapkan agar tidak lagi menjadi partai oposisi agar kocek tidak menipis seperti saat ini.

Situasi dan kondisi itulah membuat TK sangat intens mengadakan silaturahmi dengan SBY. Apalagi dengan kapasitasnya sebagai Ketua MPR ( yang nota bene hadiah dari Partai Demokrat) memuluskan berbagai langkah dan bargaining langsung dengan SBY. Hal tersebut mengakibatkan Partai Demokrat sering merasa terlangkahi atas sepak terjang TK. Di samping itu, para pengurus dan kader PDI Perjuangan pun sering mati langkah melihat manuver TK.

TK sangat mengharapkan Puan untuk di usung sebagai cawapres dari kubu SBY. Karena dengan memajukan Puan maka masih terbuka kemungkinan kader PDI Perjuangan terutama yang selama ini loyal kepada TK menduduki jabatan menteri. TK cukup cerdas untuk menilai situasi dan kondisi politik sampai 2014 bahwa siapa pun yang menduduki jabatan menteri saat ini maka pada pilpres 2014 akan ewuh pekewuh bila harus mencalonkan diri menjadi presiden.

Menelisik kebelakang di mana pada awal pemilu legislatif dan pilpres 2004 lalu, SBY pada saat mencalonkan diri maju sebagai presiden pun masih malu-malu kucing bahkan terkesan tidak maju. Ajakan Megawati untuk mendampingi sebagai cawapres ditolak SBY dengan beragam alasan. Padalah SBY sudah membulatkan tekad untuk maju menjadi capres pada pilpres 2004. Tidak hanya itu saja, pada pilpres 2009 lalu, Jusuf Kalla (JK) yang walapun maju sebagai cawapres bersama Wiranto harus perang dingin dengan SBY pada akhir pemerintahan. Beberapa kali terjadi clas antara SBY dan JK yang terlihat jelas pada saat rapat kabinet berlangsung.

Melihat pengalaman itulah TK agaknya bisa membaca bahwa bila Puan ataupun salah satu kader PDI Perjuangan duduk dalam kabinet malah mempersulit memajukan calon PDI Perjuangan untuk maju sebagai cawapres bersama capres yang akan diusung kubu SBY. Jadi PDI Perjuangan memang malu-malu kucing karena berharap bisa memperoleh ikan asin yang lebih besar dari pada menelan ikan asin sisa majikan.

Berita Terkait :

  1. Kenapa PKS Merayu PDI Perjuangan ?
  2. Mengapa TK Bermanuver Sendirian
  3. Ini Dia Sikap PDIP Terkait Reshuffle

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment