Wed, 2 March 2011

PetaPolitik.Com – Ada yang menarik dalam Rapat Dengar Pendapat antara pengurus PSSI dengan Komisi X  DPR Selasa lalu (1/3/2011). Nurdin Halid dengan termehek-mehek menceritakan bahwa ada pihak yang telah mengancam diri dan keluarganya terkait pencalonan kembali dirinya sebagai ketua umum PSSI. Namun sayanngnya, para anggota dewan umumnya menanggapi dengan kepala dingin dan rasional.

Agaknya para anggota dewan sudah paham dengan segala trik dan silat lidah Nurdin Halid yang tetap ngotot tidak mau mundur dari posisi ketua umum PSSI. Bahkan dengan tanpa malu dan ragu, dirinya kembali maju untuk masuk dalam bursa calon ketua umum PSSI periode mendatang. Dengan berdalih bahwa dirinya dicalonkan oleh pihak-pihak yang mempunyai suara dalam kepengurusan PSSI membuat dirinya tidak bisa mundur dari bursa pencalonan ketua umum PSSI tersebut.

Alasan lain yang cukup menggelikan yang dibuat Nurdin Halid tidak mau mundur karena dirinya ingin menegakkan demokrasi dan etika. Sebab bila dia mundur karena adanya desakan maka akan menjadi preseden buruk baru bagi perkembangan PSSI maupun politik Indonesia ke depan. Karena, bukan tidak mungkin pada masa berikutnya, akan ada saja kelompok yang memiliki uang untuk memobilisasi massa untuk mendesak seseorang turun dari jabatannya.

Rupanya Nurdin Halid sudah kalap dan gelap mata melihat banyak pihak yang menginginkan dirinya untuk mundur dari jabatan PSSI. Sehingga berbagai argumen dan momen yang dipergunakan untuk terus-menerus membela dirinya menjadi senjata makan tuan.

Betapa tidak, ketika Nurdin menganggap bahwa pemerintah telah mempolitisir PSSI, ternyata justru dirinya yang terus menerus mempolitisir kondisi dan situasi PSSI untuk kepentingan sendiri. Dalam pertemuan dengan pengurus koperasi seluruh Indonesia, tanpa malu-malu Nurdin berbicara tidak akan mundur dari PSSI. Padahal forum tersebut adalah forum koperasi bukan sepakbola.

Tidak hanya itu saja, ketika dalam RDP dengan Komisi X DPR, Nurdin menganggap bahwa intervensi pihak-pihak yang menginginkan dirinya mundur membuat demokrasi di Indonesia menjadi tidak sehat. Nurdin lupa, bahwa sejak dirinya menjabat ketua umum PSSI justru demokrasi dalam tubuh lembaga pembinaan olahraga sepakbola nasional itu menjadi tidak demokratis dan tidak sehat. Nurdin telah menjadikan PSSI sebagai kuda tunggangan untuk kepentingan politik dan memperkaya diri serta kroni-kroninya. Bahkan sindiran seorang anggota dewan bahwa apakah ketika pemerintah menggelontorkan dana pertahun sebesar Rp 20 Milyar untuk PSSI dianggap sebagai intervensi ternyata tidak bisa dijawab oleh Nurdin Halid.

RDP antara PSSI dengan Komisi X DPR semakin memperjelas sepak terjang Nurdin Halid dan kroni-kroninya yang membuat PSSI tidak lagi sebagai wadah pembinaan sepakbola melainkan lebih sebagai partai politik. Aturan main PSSI dibuat seenaknya sendiri agar kepentingan Nurdin cs dapat diakomodir secara penuh. Kalau perlu, anggota ataupun pengurus PSSI yang membangkang maka harus segera disingkirkan.

Sekarang tinggal menunggu keseriusan pemerintah terutama kementerian pemuda dan olahraga untuk mengajak para pengurus PSSI yang masih mempunyai hati dan kepedulian untuk bersama-sama membenahi induk olahraga sepakbola nasional itu sehingga sepakbola Indonesia menjadi kebanggaan bersama dan bukan menjadi cercaan bersama seperti selama ini.[Leo]

Berita Terkait :

  1. Nurdin Halid Diusulkan Gantikan Mbah Maridjan
  2. Bursa Ketum PSSI: Toisutta Tantang Nurdin
  3. Turunkan Nurdin Sekarang Juga

Tags

 

1 Comment

  1. petapolitik says:

    cengeng..

Leave a Comment