Tue, 25 October 2011

PetaPolitik.Com – Saat ini gaung KNPI mungkin terkesan “jadul” atau kuno bagi kaum muda Indonesia yang berumur 20-an. Bagi yang berumur 30-an pun nama KNPI sepertinya identik dengan bayang-bayang Orde Baru yang ramai-ramai ingin digusur sejak reformasi 98. Cap sebagai organisasi kaki tangan pemerintah Orde Baru memang tidak bisa dipungkiri.

Malah, secara genetik organisasi ini digodok dari laboratorium orang-orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa Orde Baru. Resepnya adalah gado-gado dari staf intelijen organik di sekitar figur Suharto, mahasiswa-mahasiswa yang juga tentara baik melalui wamil atau rekrutmen pembinaan, dan organisasi-organisasi massa yang dibentuk untuk menggusur organisasi-organisasi massa warisan kekuasaan Sukarno, dari kino-kino Golkar sampai komite-komite aksi yang bertebaran alias sisa-sisa angkatan 66.

Sebut saja nama-nama seperti David Napitupulu, mantan Ketua KAMI saat mendeklarasikan KNPI 23 Juli 1973 adalah anggota DPR dari Golkar tepatnya ketua bidang mahasiswa, pemuda dan pelajar Golkar, juga orang dekat Aspri Soeharto, tim Ali Moertopo. Sementara itu dr. Abdul Gafur deklarator KNPI, saat itu berpangkat Kapten TNI (AU). Akbar Tanjung, Ridwan Saidi, dari HMI, Cosmas Batubara dan Albert Hasibuan dari PMKRI. Zamroni mewakili PMII, Chris Siner Keytimu dari GMNI, mewakili kalangan mahasiswa. Aulia Rahman adalah salah satu nama legendaris yang sering di sebut sebagai mahasiswa binaan “opsus” (nama yang sangat terkenal dari tim intelijen di bawah komando Ali Moertopo), pada jamannya Aulia Rahman tidak banyak disukai karena lebih berkesan “intel” daripada mahasiswa.

Pendek kata gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan “Opsus”, kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto. Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.

Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”. Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.

Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut. Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.

Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar. Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa. Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.

Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo. Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.

Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya. Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.

Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto. KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim. (bersambung)

Berita Terkait :

  1. Menantu Ical Masuk Bursa Ketum KNPI
  2. Ini Dia Rujukan Penting Masa Depan Politik Indonesia
  3. Askrindo, Sejarah Panjang Spesialis Rugi

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment