Fri, 7 October 2011

PetaPolitik.com. Agamis, Militan, Pintar, dan Kaya, Empat kata itu mungkin pantas disematkan kepada politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang saat ini banyak disorot karena pernyataan-pernyataan yang kontroversial.

Fahri Hamzah, anggota DPR yang berasal dari PKS  mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang karirnya melesat sejak reformasi 1998, melontarkan tantangan kepada publik tentang wacana pembubaran Komite Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anis Matta, salah seorang pimpinan DPR dan Sekjen ”abadi” PKS, yang karirnya membentang sejak PKS masih bernama Partai Keadilan hingga bertransformasi menjadi PKS melontarkan pernyataan bahwa Presiden SBY ”kalau berani” silakan mereshuffle kader PKS.

Dengan sangat percaya diri Anis Matta mengatakan bahwa PKS tidak akan terpengaruh apa-apa jika mereka terkena reshuffle. Dia mengatakan bahwa PKS pernah berada di luar sistem dan tetep solid. PKS juga bekerja baik di dalam sistem, walaupun dengan mempertahankan sikap kritis yang tercermin dalam sepak terjang Fraksi PKS di DPR yang lebih terlihat sebagai oposisi terhadap pemerintahan SBY.

Berasal dari manakah kemampuan untuk melontarkan pernyataan-pernyataan itu? Tentunya buka tanpa sebab. Harian The Jakarta Post bulan lalu menulis laporan yang menarik tentang sedikit riwayat kedua nama kontroversial tersebut. Pelaku dan pemerhati politik Indonesia tentu mengetahui sosok yang dianggap sebagai ”The Godfather’ dari Partai Keadilan Sejahtera, yakni Hilmi Aminudin. Ketua Dewan Syuro PKS yang menentukan hitam putihnya perjalanan PKS memiliki sejarah panjang di politik Indonesia.

Bukan kebetulan jika dalam darah Hilmi Aminudin mengalir nama Danu Mohammad Hasan, ayah kandungnya, salah seorang petinggi gerakan NII yang ditangkap oleh pemerintah Suharto semasa maraknya Operasi Intelijen Khusus yang biasa disebut sebagai opsus, di akhir 70-an hingga awal 80-an. Hilmi Aminuddin adalah salah seorang dari kader-kader muda yang diarahkan oleh Kolonel Pitut Suharto untuk melakukan muhibah di Timur Tengah sebagai salah satu strategi untuk mempelajari gerakan radikal Islam di sana guna kepentingan keamanan nasional. Kolonel Pitut Suharto adalah salah seorang tokoh kunci Republik Indonesia yang hingga hari ini yang masih hidup. Kolonel yang pernah menjabat sebagai menteri muda perhubungan di jaman Sukarno ini sering muncul di televisi dengan narasi-narasi sejarah intelijen di Indonesia.

Reformasi 1998 adalah momentum yang memungkinkan kerja tekun selama puluhan tahun menemukan kiprahnya. Dalam catatan-catatan pergerakan 98 yang tersebar di dunia maya, Fahri Hasan pernah berujar, saat masih menjadi Ketua Umum KAMMI, bahwa organisasi ini bukan lah organisasi kemarin sore. Dua puluh tahun perjuangan membesarkan Lembaga Dakwah Kampus, organisasi tarbiyah dan tabligh lain adalah penggerak utama organisasi ini.

Anis Matta sendiri yang juga merupakan lulusan dari Saudi Arabia 1992 adalah murid langsung dari Hilmi Aminuddin yang sebelumnya telah membina Nurmahmudi Ismail, dan Hidayat Nurwahid. Maka tak heran jika Harian The Jakarta Post September lalu mengatakan bahwa para perwira utama di tubuh PKS pada saat ini adalah Presiden Luthfi Hasan Ishaq, Sekjen Anis Matta, Wasekjen Fahri Hamzah, dan dua anggota DPR Ahmad Rilyadi dan Abu Bakar AlHabsy.

Bukan kebetulan jika selama periode Reformasi hingga akhir masa kekuasaan Habibie, Anis Matta memperdalam ilmu ”kekuasaannya” di Lemhanas. Lulusan terbaik Lemhanas 1999 adalah catatan jelas bahwa politisi di partai yang terorganisir dengan rapi ini adalah orang yang mengetahui benar dan berpengalaman panjang dengan dinamika politik kekuasaan Indonesia. Rumor di kalangan politisi mengatakan bahwa di tangan Anis Matta lah semua urusan logistik PKS dipertaruhkan.

Akhir kata, Sekjen PKS dan Wakil Sekjen PKS, saat ini adalah orang muda dengan latar belakang yang panjang untuk bisa tampil berani seperti sekarang ini. Bisa jadi sosok muda PKS pada saat ini sangat tepat untuk disebut dengan empat kata kunci yakni, Agamis, Militan, Pintar dan Kaya. Sebagai ilustrasi, jangan heran jika, si “Pemberani” Fahri Hamzah pernah tertangkap mata saat masih aktivis mahasiswa melontarkan pernyataan seperti Hidup ABRI, dan mengatakan mendukung Suharto. (dari berbagai sumber) (djio)

Berita Terkait :

  1. Pengamat Minta Fahri Dipecat, PKS Santai
  2. PD Belum Evaluasi Posisi PKS di Koalisi
  3. PKS Bilang Citra KPK Kian Merosot!

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment