PetaPolitik.Com – Membaca tulisan Andi Arief staff khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana di rakyatmerdekaonline.com Sabtu (01/10) yang berjudul “Kabinet Yang Melawan Badai“ memunculkan sebuah tanda-tanya besar tentang hilangnya nalar kritis dari seorang aktivis pergerakan perlawanan terhadap negara Orde Baru masa 90-an.
Yang tersaji dari tulisan Andi Arief adalah semacam pembelaan defensif dari maraknya kritik terhadap kinerja Pemerintahan yang lemah, dan kecenderungan klasik pemikiran delusional yang tidak mampu melihat borok diri sendiri. Beberapa hal harus dicermati dari tulisan yang saya lihat lebih sebagai “tugas” seorang pembela presiden, dan siap “pasang badan” jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
The Dreaming Team
Andi mengatakan bahwa tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu jilid II adalah the dream team pasca Sri Mulyani Indrawati. Sebuah pernyataan yang gegabah. Bagaimana bisa disebut the dream team jika seorang Menko Perekonomian seperti Hatta Rajasa adalah seorang yang tidak penah diketahui jejaknya di kalangan pemerhati, dan pemikir kebijakan ekonomi atau biasa disebut ekonom. Sebuah posisi strategis yang mengharuskan adanya kualitas intelektual maupun kebijaksanaan yang mumpuni, cukup dipercayakan kepada seorang makelar rongsokan proyek pertambangan di masa 2000-an.
Naiknya Agus Martowardojo menggusur Sri Mulyani adalah sebuah lelucon kebijakan dari sebuah pemerintahan yang tidak mau capek. Sri Mulyani menggantikan Jusuf Anwar dalam perombakan kabinet pertama SBY-Kalla. Terlepas dari segala faktor ketidaksukaan terhadap kecenderungan kepala batu dan susah berkompromi, Sri Mulyani terbukti telah mampu mengatur sebuah Departemen yang biasa dijadikan “ATM” kekuasaan menjadi sebuah departemen yang mempunyai tertib sistem dan pengetatan administrasi yang menyulitkan bagi pihak-pihak yang punya kecenderungan “rampok’ terhadap anggaran negara.
Apakah MS Hidayat berbeda dengan Fahmi Idris, ternyata tidak. Posisi di kementerian yang sangat strategis ini cukup diberikan kepada orang Golkar. Sejarah panjang MS Hidayat sebagai pengusaha via Golkar bisa dirunut panjang jejaknya sejak jaman Akbar Tanjung menjabat Menteri Perumahan dan Transmigrasi era Soeharto. Lebih lucu lagi penunjukan Mari Pangestu untuk menjadi menteri Perdagangan, sebuah posisi yang cenderung rasis hanya karena faktor Mari yang kebetulan berdarah Tionghoa dan bukan kebetulan merupakan seorang yang punya hubungan khusus dengan kalangan bisnis yang sedang berkembang di Republik Rakyat China.
Bagi saya kata-kata the dream team lebih pantas jika diganti dengan The Dreaming Team karena sangat menggelikan.
Krisis Antisipasi
Andi Arief mengatakan bahwa pemerintah sigap mengatasi krisis Global. Pada tahapan ini saya melihat bahwa Andi Arief mungkin sungguh sedang tidak serius dengan tulisannya. Pemerintah Indonesia dikatakan bisa mengantisipasi krisis global dengan melakukan diversifikasi ekspor. Dengan enteng dia mengutip data tentang naiknya tingkat ekspor non-migas Indonesia sebesar 70% ke negara-negara Asia. Terlihat betapa asal-asalan penasehat presiden ini dalam merumuskan argumennya.
Banyak sekali kelemahan argumentasi kawan saya ini, pertama, antisipasi krisis global dengan diversifikasi ekspor. Dalam pandangan saya yang hanya membaca ekonomi dari koran tentu memahami bahwa rasio ekspor Indonesia sebelum krisis tahun kemarin hanya sekitar 30% dari Produk Domestik Bruto. Angka ini menunjukkan bahwa diversifikasi ekspor hanyalah salah satu antisipasi untuk mengatasi efek kerusakan krisis global. Diversifikasi ekspor hanyalah salah satu bagian kecil dari strategi bertahan yang memang harus dilakukan oleh sebuah pemerintah yang mempunyai sistem moneter yang bergantung pada pasar dunia.
Kedua, argumentasi tentang upaya pemerintah meningkatkan daya saing produk ekspor dengan rujukan pada volume pangsa ekspor 2010. Kelemahan argumen ini sangat mendasar. Kenapa karena persoalan peningkatan daya saing adalah persoalan peningkatan kebijakan kualitatif tetapi dibuktikan dengan sebuah data kuantitatif yang tentu saja tidak nyambung. Saya mulai berpikir bahwa kawan saya ini sedang menulis dalam keadaan tertekan.
Ketiga, argumentasi tentang penguatan sektor perbankan dengan Undang-undang yang kokoh juga merupakan klaim yang asal comot. Arsip-arsip tentang penguatan perundangan Sistem Perbankan Nasional justru paling banyak diteken saat pemerintahan Megawati. Pemerintahan SBY mungkin lebih terkenal sebagai pemerintahan yang jeli dalam memanfaatkan masih premature-nya sistem perbankan dalam mengantisipasi gejolak pasar antar-bank super sensitif yang umum dikenal sebagai Skandal Bank Century.
Keempat, argumentasi tentang menteri yang dirundung kasus korupsi belum tentu kinerjanya jelek. Pembelaan terhadap kolega secara tidak kritis benar-benar hadir di sini. Kawan saya ini melupakan bahwa posisi pejabat publik adalah posisi yang super. Pejabat publik mempunyai hak istimewa yang membuat dia mempunya kekuasaan yang lebih sekaligus keterbatasan yang diwujudkan oleh kontrol publik. Dalam negara yang menerima demokrasi, indikasi korupsi adalah indikator buruknya kinerja. Hal ini tidak bisa ditawar mengingat posisi pejabat publik apalagi kementerian negara adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengelola kekuasaan anggaran jauh lebih mudah daripada pengusaha dan pemodal yang harus berhitung tiap hari dengan rekan bisnis atau grup pekerjanya.
Masih banyak faktor yang melemahkan argumentasi kawan saya Penasehat Presiden Bidang Bencana Alam ini dalam tulisan tersebut. Saya hanya berharap bahwa kritik yang saya tulis ini akan mengingatkan kembali kepada kawan saya bahwa bekerja di dalam sistem memang berat dan biasanya gagal. Tetapi keberanian mengambil posisi untuk menjadi pengambil keputusan adalah sesuatu yang penting. Hanya saja, jika kekeliruan kolegial, dan kegagalan kolektif pemerintahan harus dibela dengan argumentasi yang asal-asalah sungguh saya sebagai kawan pribadi juga tidak bisa menerimanya.[Djio]
Berita Terkait :
- Deja Vu Reshuffle Kabinet: Perombakan Tukang Tambal
- Reshuffle Kabinet, Demokrasi dan Defisit Politik Sipil
- Reshuffle Kabinet : Saat Kader Parpol Mulai Cemas


0 Comments
You can be the first one to leave a comment.