Mon, 19 September 2011

PetaPolitik.Com – Kongres KNPI yang menurut rencana akan dilangsungkan Oktober-November mendatang adalah salah satu rujukan penting untuk melihat masa depan politik Indonesia.

KNPI adalah organisasi kepemudaan berskala nasional yang memiliki sejarah lekat dengan bangun berdirinya kekuasaan negara Orde Baru. Tokoh-tokoh politik Indonesia yang memiliki karakter kuat banyak lahir dari organisasi KNPI. Sebut saja nama-nama yang sudah menjadi legenda seperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Suryadi, hingga Ridwan Saidi, adalah politisi senior yang lahir dari organisasi kepemudaan ini.

Tiga nama di depan telah dikenal sebagai “core” dari kekuasaan Orde Baru, beberapa kali jabatan menteri jaman Orde Baru adalah buktinya. Suryadi terkenal sebagai tokoh kontroversial di masa akhir kekuasaan Suharto dan sedangkan “Ngkong” Ridwan Saidi masih tangguh menjadi aktivis yang selalu relevan hingga saat ini.

Catatan itu menunjukkan bahwa organisasi KNPI, terlepas dari segala citra lekat dengan Orde Baru adalah ajang pergulatan politik pemuda yang penting, terutama untuk melihat masa depan Republik Indonesia. Republik Indonesia memiliki sejarah panjang dengan keterlibatan pemuda dalam berbagai periode jaman-jaman dinamikanya.

Termasuk juga perubahan besar dalam 15 tahun terakhir di Republik yang disebut jaman Reformasi. Uniknya, peran KNPI dalam jaman Reformasi justru berada di pinggiran. Konsekuensi dari lekatnya kekuasaan Orde Baru di tubuh KNPI menjadikan KNPI tidak bisa menarik simpati masyarakat Indonesia masa reformasi. Bahkan KNPI menjadi salah satu bagian yang dituntut untuk dibubarkan.

Tak bisa dipungkiri bahwa KNPI besar menjadi alat kekuasaan Orde Baru untuk mengontrol segala kehidupan politik warga negara. KNPI sebagai alat korporasi menjadikan perebutan kekuasaan di tubuh organisasi KNPI menjadi lekat dengan politik praktis, hanya berkisar perebutan posisi yang menjanjikan kekuasaan tetapi miskin berbagai hal penting dari sifat kepemudaan yang biasanya menonjolkan semangat pembaruan, gagasan kemajuan, dan cita-cita perubahan.

Dalam iklim nasional yang berubah, KNPI di akhir masa kekuasaan Suharto mau tidak mau juga harus mengubah strateginya. Menjadi relevan di masa reformasi memunculkan nama Idrus Marham yang mengusulkan Rejuvenasi KNPI. Yang berarti KNPI dikembalikan lagi fungsinya sebagai organisasi kepemudaan yang lebih independen dengan istilah menjadi mitra kritis pemerintah.

Seiring dengan berbagai kebebasan berpolitik yang muncul pasca reformasi, ketua umum KNPI periode 2005-2008 Hasanudin Yusuf justru dituntut mundur karena dia menjadi pendiri Partai Pemuda Indonesia. Dinamika itu yang menjadikan KNPI kemudian mempunyai dua kepengurusan.

Yang pertama adalah kepengurusan yang melakukan kongres di Jakarta, dikenal sebagai kepengurusan Ancol, dan yang kedua adalah kepengurusan yang berkongres di Bali. Kongres Ancol memunculkan nama Ahmad Doli Kurnia sebagai ketua umum dan kongres Bali memunculkan Azis Syamsuddin sebagai ketua umum. Kedua kepengurusan inilah yang diharapkan dapat memunculkan kongres bersama yang pada akhirnya akan memunculkan satu kepengurusan yang akan mengakhiri perpecahan. Akankah kongres itu berlangsung seperti cita-cita reunifikasi, kita tunggu saja dalam beberapa waktu dekat ini.[Djio]

Berita Terkait :

  1. Ini Dia Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI)
  2. Ini Dia Sikap PDIP Terkait Reshuffle
  3. Ini Dia Walikota Yang Tidak Pernah Mengambil Gajinya

Tags

 

No Comments

    Leave a Comment