PetaPolitik.Com – Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparingga menyebut Menteri Perekonomian Hatta Rajasa sebagai salah satu menteri terhebat di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.
Hal ini diungkapkannya dalam sebuah diskusi bertajuk bedah kinerja KIB II di gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Kamis (29/9).
“Ada banyak menteri hebat, salah satunya adalah Hatta Radjasa, dia andalan. Di kementerian semua orang tahu apa yang dia kerjakan,” kata Daniel.
Sementara itu ditempat yang sama, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan pencapaian Hatta sulit dikatakan sebagai yang terbaik. Pasalnya, harmonisasi beberapa kementerian bidang ekonomi yang dipimpinnya tidak akur. “Secara koordinasi Hatta lemah,” tegas Burhan.
Menurutnya, perbedaan pendapat yang berujung pada polemik antara Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dengan Menteri Perindustrian Ms Hidayat dan sebelumnya dengan Menteri kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad bisa menjadi indikator lemahnya koordinasi kementerian yang dipimpin Hatta. “Ini kan bagian dari Pak Hatta Rajasa juga,” ujarnya.
Kendati demikian, Burhan mengakui jika Hatta mampu menggawangi persoalan ekonomi makro. “Harus diakui juga. Indonesia menjadi the rising star,” ujarnya.
Bukannya tanpa sebab, Burhan mengatakan, bahwa faktor ekonomi makro meningkat karena posisi strategis menteri bidang perekonomian yang berasal dari kalangan profesional seperti halnya Menteri Keuangan dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
Prestasi Tanpa Sengaja
Lain dengan Burhan, ekonom senior ECONIT, Hendri Saparini justru mengatakan pencapaian ekonomi makro Hatta hanya sebatas ‘kecelakaan’.
“Kalau pekerjaan Menko Perekonomian bukan sekedar stabilitas makro ekonomi. Sekarang ini yang bagus kan bukan sekedar makro ekonomi tapi lebih ke finansialnya,” kata Hendri.
Ia mengatakan, jika pernyataan Daniel Sparingga mengacu pada pencapaian makro ekonomi hal-hal seperti kemiskinan, pengangguran kemudian tingkat pendidikan harus termasuk didalamnya dan bukan hanya mendompleng dorongan dari faktor eksternal yakni kondisi dan situasi perekonomian di Eropa dan Amerika.
“Penguatan rupiah karena di Eropa sedang tidak menguntungkan. Indeks saham karena di Eropa dan Amerika belum menguntungkan, makanya mereka berduyun-duyun datang kesini,” ujarnya.
“Ini bukan karena kerja pemerintah, tapi lebih karena eksternal driven,” lanjutnya.
Indikator kinerja Menko Perekonomian sendiri dinilai terbantu dengan adanya ‘hot money’.
Padahal, lanjut Hendri, Hatta Rajasa semestinya mampu menjadi dirigen bagi berbagai kementerian yang ada dibawahnya. Termasuk soal koordinasi antar lembaga dan kementerian. “Karena sebenarnya performance dia (Hatta) dilihat dari situ. Bukan dari kinerja keuangan. Kinerja keuangan itu lebih pada Bank Indonesia,” ujarnya.
Seperti diketahui, beberapa kementerian yang ada dibawah Menko Perekonomian berselisih. Sebut saja Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat yang berselisih pendapat mengenai rotan. Atau Mari Elka dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengenai impor garam.
Tidak hanya itu, perselisihan antara ketua BKPM Gita Wiryawan dengan Menkominfo Tifatul Sembiring mengenai posisi produsen blackberry, Research in Motion juga belakangan ini terlihat.
“Selama Menko Perekonomian tidak bisa membuat solusi yang terintegrasi antar sektor itu berarti kinerjanya belum bagus. Apalagi yang terjadi sekarang perselisihan. Bukan karena kinerjanya tidak bagus. Tapi karena tidak guideline,” ujar Hendri.
Menurutnya penyebutan Hatta Rajasa sebagai menteri andalan tidak tepat dan salah indikator sebab sebagai Menko Perekonomian tidak ada road map yang jelas mengenai arah ekonomi Indonesia.[Dam]
Berita Terkait :


0 Comments
You can be the first one to leave a comment.