Selamat HUT Ke-494 Jakarta, Ini Sejarah yang Menarik untuk Diketahui

0
718
HUT DKI Jakarta (Foto : Instagram/@dkijakarta)

Petapolitik – Pandemi Covid-19 membuat HUT ke-494 DKI Jakarta lagi-lagi tidak ada perayaannya. Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan jajarannya hanya akan menggelar upacara di halaman Balai Kota.

Hal itu tertuang dalam Ingub Nomor 40 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Upacara dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-494 Jakarta 2021. Disebutkan upacara itu akan digelar di halaman kantor Anies.

“Tempat Halaman Balai Kota Provinsi DKI Jakarta,” demikian isi Ingub Anies, dilansir dari detik.com, Senin (21/6/2021).

Sementara Okezone mewartakan, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria menyebutkan, HUT DKI Jakarta tahun ini akan dirayakan secara virtual, dengan pembatasan ketat di lokasi acara.

“Di tengah Covid-19 tetap kami laksanakan secara virtual, semuanya bakal ada pembatasan di lokasi-lokasi penyelenggaraannya,” kata Riza di Balai Kota Jakarta

Kenapa HUT Jakarta ditetapkan pada 22 Juni?

Dilansir dari tirto.id, peristiwa sejarah merupakan alasan dibalik penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta. Lebih dari 400 tahun lalu, tepatnya pada 1527, pasukan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jakarta, yang saat itu masih bernama Sunda Kelapa.

Pasca kemenangan pasukan Fatahillah, nama Sunda Kelapa kemudian diganti menjadi Jayakarta. Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, kata “Jayakarta” sendiri diilhami dari Surat Al Fath ayat 1, tentang yang berbunyi “Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan padamu, kemenangan yang tegas.”

Kalimat “kemenangan yang tegas” itu kemudian dialih bahasakan menjadi “Jayakarta.” Sejak jatuh ke tangan Fatahillah, corak kehidupan masyarakat Jayakarta didominasi oleh kebudayaan Islam. Sayangnya, peperangan antar kubu Islam dan penganut Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal terus berlangsung kala itu.

Pendapat lainnya, yang dicetuskan oleh Ridwan Saidi, tokoh sekaligus budayawan Betawi menyebutkan bahwa kata “Jayakarta” bukan dicetuskan oleh Fatahillah. “Nama Jayakarta sudah ada sejak lama. Ada desa di Karawang yang namanya Jayakerta yang merupakan wilayah budaya Betawi. Itu sudah ada sejak zaman Siliwangi,” kata Ridwan dalam diskusi “Kontroversi HUT Jakarta” 2011 silam.

Pendapat yang sama turut tertuang dalam buku Profil Orang Betawi: Asal-Muasal, Kebudayaan, dan Adat-Istiadatnya yang meragukan klaim pencetusan nama Jayakarta untuk menggantikan Sunda Kelapa. Menurut Ridwan, Jayakarta adalah tempat pengasingan salah satu istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja yang memimpin Kerajaan Sunda Galuh pada 1482-1521.

Di pengasingan itu, istri sang prabu kehilangan bayi laki-lakinya tak lama setelah dilahirkan. Sehingga, demi memperingati kematian sang bayi, istri Prabu Siliwangi menamakan wilayah tersebut sebagai Jayakerta yang artinya “kemenangan yang jaya.”

Kemudian, di tahun 1619, pasukan kolonial masuk Jayakarta dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Dibawah kepemimpinan Belanda, pada 30 Mei 1619 nama Jayakarta dubah menjadi Batavia. Setelah kekuasaan Belanda berakhir dan berganti dengan penjajahan Jepang pada 1942, nama Batavia dihanguskan dan diubah kembali menjadi Jakarta.

Hari ulang tahun Jakarta sendiri mulai ditetapkan oleh pemerintah pada 1953-1958 di bawah kepemimpinan Wali Kota Jakarta, Sudiro. Penetapannya dipertimbangkan dari naskah yang berjudul “Dari Jayakarta ke Jakarta” oleh Mohammad Yamin, Dr. Sukanto, dan Sudarjo Tjokrosiswoyo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here