“Presiden Suka Berbohong”

0
65
Sejumlah ibu-ibu berpakain indah mengangkat poster berisi kritikan tajam (Foto : Istimewa)

Peta Politik – Berbagai cara dilakukan masyarakat dalam memperingati Hari Pahlawan setiap 10 November. Mulai dari mengenakan pakaian adat, yang biasanya dilakukan anak-anak, upacara bendera oleh para birokrat, hingga tabur bunga di makam pahlawan yang dilakukan Presiden setiap tahunnya.

Tak terkecuali aksi kelompok Aliansi Masyarakat Peduli 10 November saat menggelar acara Peringatan Hari Pahlawan di Gedung Sate, Bandung, Selasa 10 November 2021.

Ratusan orang dari perwakilan ormas di daerah Jawa Barat, seperti dari Cimahi, Garut, Sukabumi, Karawang dan lainnya itu, tumpah ruah dalam acara tersebut.
Penanggung jawab acara, Harri Mulyana, mengatakan bahwa mayoritas yang hadir berpakaian sesuai ormas mereka, sementara ibu-ibu datang dengan pakaian yang indah.

Namun, keindahan pakaian mereka tidak berbanding lurus dengan kata-kata yang tertuang dalam poster yang dibawa. Di mana poster-poster itu berupa kritik pedas terhadap penguasa. Di antarnya adalah “Presiden Suka Berbohong”.

Selain itu, tulisan pada poster lainnya juga tak kalah pahit, yakni “Negeri Tergadai Utang”, “TKA China di Sayang”, “Buruh RI di Buang”, dan “Pejabat dan Pengusaha Berbisnis di Balik Bencana Memeras Rakyat”.

“Ini menunjukan kepedulian mereka terhadap bangsa dan sesuai tema acara peringatan hari Pahlawan ‘Ibu Pertiwi Sedang Menangis’,” ujar Harri seperti dikutip dari RMOL, Kamis (11/11/2021).

Bertindak sebagai orator dalam acara itu antara lain Tri Erniyati, Ummi Fallah dan KH. Qohar Al Qudsy.

Qohar Al Qudsy dalam orasi menyampaikan kondisi bangsa saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja. Masyarakat perlu membangkitkan jiwa kepahlawanan meneladani nilai nilai kejuangan dan pengorbanan para pejuang dan patriot bangsa dalam segala upaya mereka memerdekakan bangsa dan negara dari segala bentuk belenggu penjajahan.

“Dalam kondisi ibu pertiwi sedang menangis, solusinya rakyat harus bersatu padu mengawasi dan mengkritisi secara terus menerus rezim ini, rakyat harus melawan kebijakan yang merugikan dan membahayakan negara,” ujarnya.

Setelah Longmarch dari Gedung Sate ke TMP Cikutra Bandung, Upacara di TMP Cikutra sesuai kesepakatan dengan pengelola TMP diikuti terbatas oleh 70 orang, wakil satu orang dari setiap ormas, sedangkan yang lain menunggu dipelataran luar TMP.

Dalam upacara di TMP Cikutra, mantan Kabais Letjen Purn. Yayat Sudrajat menjadi Inspektur Upacara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here