Tue, 24 April 2012

Kalau hari ini Aburizal Bakrie menggunakan cara-cara “kampungan” seperti memaksa pembagian sembako di daerah-daerah bergambar dirinya, bisa jadi Ical (panggilannya) sendiri juga akan muntah melihat cara-cara yang memang sangat kampungan sekali, udik dan payah.

Pernah mendengar istilah “pencemplungan”? Pada saat genting menjelang konsolidasi menuju pemilu 2014 para “binatang” jago politik yang paling banyak bercokol di partai bergambar beringin tentu tidak akan membiarkan siapapun bisa menjadi yang “paling” menentukan arah kepemimpinan gerbong partai Golkar ke depan.

Siapa sih yang berkelahi? Dalam rentang empat tahun terakhir nama-nama yang dulunya berkelahi di dalam tubuh partai Golkar sudah mempunyai “kendaraan” masing-masing. Surya Paloh misalnya, yang lahir dan besar di Golkar sudah kampanye di mana-mana dan di media televisi yang dia punya, bahwa dia sudah berani mengemudikan kendaraan baru partai Nasional Demokrat. Wiranto yang jelas-jelas dua kali dipecundangi di Golkar sampai saat ini masih cenderung bertahan di partai Hanura yang menurut salah satu Survey politik yang dilakukan bulan Pebruari lalu, memang tetap saja tidak mempunyai peluang untuk bisa bersaing.

Tinggal tersisa Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Agung Laksono, Fadel Muhammad, yang merupakan nama-nama terkenal yang sekarang ini patut diduga memang sangat berpotensi mengganggu kestabilan kepemimpinan Aburizal Bakrie. Bila Fadel Muhammad diabaikan dengan mengandaikan dia merupakan bidak kuat dari Akbar Tanjung dan Agung Laksono juga diabaikan dengan perhitungan bahwa Agung Laksono hanyalah seorang politisi oportunis yang hanya pintar “menunggang” arus dan bukan pencipta arus, maka tinggal Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla yang menjadi duri dalam daging kepemimpinan Aburizal Bakrie.

Lantas, dari mana muncul nama Zainal Bintang dan Hajrianto Tohari? Adakah mereka memiliki reputasi yang kuat minimal dalam sejarah pertarungan di dalam tubuh Partai Golkar? Zainal Bintang sebagai politisi yang pandai memainkan media massa ternyata bukan lain adalah politisi yang pernyataannya cenderung tidak berseberangan dengan Akbar Tanjung. Arsip-arsip berita Golkar yang berserakan di internet menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan Zainal Bintang tidak pernah berlawanan dengan manuver Akbar Tanjung. Bagaimana dengan Hajriyanto yang digadang-gadang sebagai orang muda Partai Golkar? Sekilas arsip-arsip berita Golkar pada tahun 2004 menunjukkan data bahwa Hajriyanto adalah rujukan wartawan bagi tiap-tiap manuver yang dilakukan oleh Akbar Tanjung.

Parahnya bagi kubu Ical, posisi Rizal Mallarangeng yang sebenarnya merupakan “outsiders” tetapi saat ini banyak menyelonong sana-sini karena kedekatan dengan Ical, membuat resistensi dari kino-kino Golkar yang berangkat melalui kompetisi organisasi dalam waktu puluhan tahun, meradang. Yorris Raweyai menyebutkan dengan gamblang tentang orang-orang yang tidak cukup kuat punya sejarah dalam tubuh partai Golkar. Dan pada posisi ini jelas Akbar Tanjung memiliki kartu yang lebih banyak daripada Ical. Apakah Ical kurang kartu? Silakan menilai sendiri, yang jelas kartu kucuran uang sepertinya tidak terlalu berbunyi bagi Partai Golkar yang masing-masing pemegang sahamnya rata-rata sudah mempunyai mekanisme “fund raising” yang relatif independen dari kekuatan konglomerasi Ical.

Sekali lagi Akbar Tanjung memang benar-benar “Kuda Hitam” sejati. Posisinya yang beberapa kali jatuh bangun sejak Golkar masih ada dalam ketiak Suharto hingga pasca Suharto sepertinya tidak pernah berhenti untuk terus menerus menjadi “relevan” dalam tiap pertarungan di tubuh Partai Golkar. Akbar versus Ical memang benar-benar bertarung. Jusuf Kalla mungkin akan sedikit mewarnai, tetapi menilik faktor usia yang memaksa dia untuk tidak memforsir diri, ditambah orang-orang Sulawesi memang lebih condong mendukung Akbar Tanjung, sepertinya pertarungan Akbar versus Ical akan menjadi salah satu pertarungan klasik yang layak ditunggu. (djio)

Berita Terkait :

  1. Akbar Tandjung: Ical Layak Nyapres
  2. Tersingkirnya Fadel Muhammad dan Pertarungan Internal Golkar
  3. Ruhut: Dialog Ical dengan Tokoh Senior Golkar Sia-sia
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment